Minggu, 13 November 2011

Budayakan Membaca Sejak Dini..!!!

Orangtua mana yang tidak senang, saat melihat anaknya rajin belajar tanpa disuruh. Hampir semua orangtua berharap anak-anak mereka mau belajar sendiri, tanpa harus dipaksa, dibujuk dengan susah payah, atau harus bertengkar terlebih dahulu. Sebagai orangtua, Anda juga berharap begitu, bukan?
Sebenarnya, budaya "belajar" mandiri berawal dari kebiasaan membaca sejak dini. Orangtua yang membiasakan anak-anaknya membaca sejak dini usia, akan memetik buah yang sangat manis; anak-anak mereka cenderung lebih mudah belajar, tidak malas, dan senang membaca. Seakan-akan, buku adalah sahabat dan teman bermain yang mengasyikkan bagi mereka.
Sayangnya, tidak banyak orangtua yang menyadari pentingnya membaca sejak dini usia ini. Mereka cenderung bersantai-santai pada awalnya, dan menyerahkan semuanya kepada sekolah, sambil menunggu "hasil". Hingga pada akhirnya, mereka baru akan tersadarkan setelah melihat hasil belajar putra-putri mereka yang jauh dari harapan.
Setelah melihat hasil yang kurang memuaskan ini, akhirnya orangtua mencari cara agar anak-anak mau belajar. Tidak jarang yang menggunakan cara-cara pemaksaan, hukuman, jadwal les yang padat, yang mayoritas itu bukannya menambah keinginan dan semangat anak untuk belajar, tapi malah membuat mereka jenuh belajar. Nah, lo...kalau sudah begitu, repot juga, kan?
Membudayakan membaca dan menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan sangat melelahkan! Mengapa? Karena aktivitas ini akan menyita banyak waktu, menguras energi dan pikiran kita sebagai orangtua. Tapi, sekali lagi, jangan jadi orangtua kalau Anda tidak mau capek!!
Saya terkenang dengan ibu saya. Sejak saya kecil, saya dan abang saya dibiasakan dengan buku. Sebelum tidur, kami dibacakan berbagai macam buku cerita. Aktivitas sehari-hari pun, kami akrab dengan buku. Kebetulan, kakek dan nenek kami adalah penilik sekolah, dan suatu hari mereka mengirimi kami satu peti buku bacaan. Isinya? Ratusan!! Kami semakin memperkaya perpustakaan pribadi kami dengan koleksi buku-buku tersebut.
Ibu mendidik saya bukan dengan "harus" membaca. Tapi, ibu membuat saya senang bermain dengan buku. Dan akhirnya, saya pun bersahabat baik dengan buku. Bahkan saat makan, saya selalu menyempatkan sambil membaca buku. Hambar rasanya jika makan tanpa buku yang menemani. Saya berkacamata minus tiga pun, itu akibat saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membaca buku, meski sambil tiduran. Sampai kini, saya hampir menjadi seorang ibu pun, kebiasaan itu melekat pada saya.
Budaya membaca buku itu mengantarkan saya kepada kebiasaan belajar mandiri. Saya menjadi kaya akan kata, dan membuat saya mencintai dunia menulis. Hal itu didukung dengan daya khayal saya yang tinggi. Terciptalah dongeng-dongeng, puisi-puisi, cerpen-cerpen hasil khayalan saya.
Banyak orangtua tidak menyadari pentingnya hal ini dalam dunia anak-anak mereka. Saat kecil, mereka memang mungkin belum menunjukkan prestasi gemilang alias nilai-nilai yang terbaik. Adanya ketidakstabilan dalam dunia anak-anak, seringkali membuat mereka lebih cenderung "hidup" di dunia khayal mereka.Kita sering mengecap mereka "pengkhayal", dan pada akhirnya menyuruh mereka untuk berhenti melakukan hal tersebut.
Yang seharusnya orangtua lakukan bukanlah menyetop atau menyuruh mereka "berhenti". Namun memberikan mereka arahan dan bimbingan, kemana mereka seharusnya melangkah. Disusul kemudian motivasi untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Hasilnya? KEAJAIBAN LUAR BIASA!!
Anda pernah melihat penulis-penulis cilik yang usianya belum genap 10 tahun, namun sudah menghasilkan banyak karya? Nah, jika Anda mampu mengembangkan potensi tersebut dari putra-putri Anda, maka Anda telah melakukan sebuah investasi berharga. Percayakah, bahwa putra-putri Anda bisa lebih baik dari mereka semua? Tentu harus!
Kecerdasan pertama kali dibangun oleh kemampuan berbahasa seorang anak. Dan kemampuan membaca ini berawal dari kebiasaan membaca. Anak-anak yang banyak membaca, mereka akan memiliki pengetahuan, wawasan yang lebih banyak daripada anak-anak lain yang tidak suka membaca.
Membudayakan membaca sejak dini, bukan berarti memaksa mereka untuk serius sampai mengerutkan kening. Tapi, membuat mereka mencintai buku, seperti mereka mencintai bermain.
Budaya membaca sejak dini ini bisa Anda mulai sejak ia dalam kandungan Anda. Pada usia 7 bulan, janin sudah dapat mendengar suara-suara di sekitar ibunya. Tidak ada salahnya, Anda membaca buku keras-keras, sambil mengajaknya berbicara.
Saat si kecil lahir, Anda bisa mengenalkan budaya membaca dengan kartu-kartu dan permainan edukatif. Bukankah anak-anak suka bermain? Nah, jangan halangi kesenangan mereka ini. Namun, buatlah improvisasi, dimana anak-anak bisa belajar membaca sambil bermain. Asyik, bukan?

Sumber:
http://www.persit-
kckjaya.org/index.php?option=com_content&view=article&id=491:budayakan-
membaca-sejak-dini&catid=42:info-keluarga&Itemid=69

Foto Copy Ramah Lingkungan

Toshiba telah mengumumkan produk mesin fotocopy terbaru mereka yang bisa menghapus tulisan yang ada di kertas dan bisa kita gunakan kembali nantinya (namanya hemat kertas dan ramah lingkungan). Mesin fotocopy ini akan menggunakan tinta (toner) khusus dimana bila terkena panas, cetakan akan hilang tanpa bekas.Untuk membuat tulisan hilang dari kertas, kita membutuhkan sebuah alat khusus yang berfungsi untuk menghasilkan panas dan membuat cetakan hilang dan berbeda dengan Xerox, kertas yang digunakan adalah kertas biasa dan kita bisa menggunakan kertas tersebut sampai 5x.Untuk harganya sendiri, mesin fotocopy ini memang lebih mahal sekitar 20-30% dibandingkan mesin fotocopy sejenis tetapi kalau anda pedulu lingkungan (dan punya uang), tentu harga bukan menjadi masalah.
Bagaimana dengan dokumen- dokumen yang pentig tentu kita akan mefotocopy dengan cara biasa dan saya yakin tinhgkat kebutuhan terhadap dokumen penting jauh lebih banyak dari pada dokumen – dokumen biasa menurut saya inovasi belum dapat mebantu tingkat keramah lingkungan. Saya pikir dengan membuat pohon - pohon khusus yang akan di buat menjadi kertas dan di tebang sesuai kebutuhan lalu di tanam lagi agar dapat menjadi pohon baru yang akan siap di tebang suatu saat nanti ini akan sangat membantu kita punya lahan yang sangat banyak di tanah air ini pemerintah harus bertindak cepat untuk hal ini karena butuh waktu yang lama untuk menjadikan pohon tersebut untuk layak di tebang dan jangan biarkan lahan yang mengganggur kita harus mamanfaatkanya sebaik mungkin karena kebituhan kertas adalah kebutuhan yang sangat tinggi dan sangat wajib harus terpenuhi oleh setiap manusia dan manusia pun juga harus dapat memanfaatkanya sebaik – baiknya dan menggunakan seperlunya, kita perlu kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan ini.

Sumber :
http://www.otakku.com/2010/12/21/mesin-fotocopy-toshiba-yang-ramah-lingkungan

Pengertian Usul/Proposal

Proposal adalah suatu saran atau permintaan kepada seseorang atau suatu badan untuk mengerjakan atau melakukan suatu pekerjaan. Dapat pula terjadi bahwa usul atau proposal itu sama sekali tidk dimaksudkan untuk dikerjakan oleh orang tau badan yang mengajukan usul tersebut, tetapi dengan maksud agar orang atau badan yang menerima usul itu dapat melakukan apa yang diharapkan dalam proposal tersebut.
Sifat dan Jenis Usul/Proposal
Proposal dibuat berdasarkan sesuatu yang belum ada. Walaupun barang yang diusulkan itu belum ada, penulis proposal harus merangkaikannya sedemikian rupa sehingga dapat meyakinkan penerima usul. Macam-macam bidang yang dewasa ini bisa dijadikan sasaran usul yang bersifat bisnis antara lain; penelitian, pengembangan, perencanaan dan pemasaran.
Sama dengan laporan, proposal masih dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk yaitu proposal formal, semi formal dan non formal .
Proposal Formal
Proposal formal pun harus memenuhi persyaratan tertentu. Sekurang-kurangnya ada tiga bagian utama, yaitu Bagian Pelengkap Pendahuluan, Isi Usul, dan Bagian Pelengkap Penutup.
a.1 Bagian Pelengkap Pedahuluan
a.1.1 Surat Pegantar atau Memorandum Pengantar
Berfungsi sama dengan peyerahan atau surat pengantar pada sebuah laporan
a.1.2 Sampul dan Halaman Judul
Sampul dan halaman judul sebenarnya berbeda. Namun supaya pembaca dapat mlihat dengan segera apa isi suatu buku atau sebuah dokumenm maka sampul buku atau dokumen itu diberikan pula teks seperti tertera pada halaman judul. Pada sampul atau halaman judul dicantumkan identifikasi jenis tulisan yaitu proposal, judul proposal, nomor pengenal kalau ada, yang biasanya dihubungkan dengan nomor penawaran.
a.1.3 Ikhtisar atau Abstrak
Menyampaikan inti sari dari masalah dan cara pemecahan yang disampaikan dalam usul tersebut.
a.1.4 Daftar Isi
Memuat rekapitulasi dari semua judul utama dan judul bawahan yang terdapat dalam seluruh proposal itu.
a.1.5 Penegasan Permohonan
penegasan mengenai permintaan dapat dimasukkan dalam ikhtisar. Tetapi bila usul yang disampaikan itu cukup panjang, lebih baik bagian ini diberikan tempat tersendiri.
a.2 Isi Proposal
Memuat uraian yang terperinci dari pekerjaan atau tugas yang akan dillakukan. Masalah-masalah yang akan dikerjakan itu berbeda-beda sifatnya, di samping itu situasinya pun tidak sama bahkan pada pekerjaan-pekerjaan yang dianggap sejenis.
a.2.1 Pembatasan Masalah
Pembatasan pengertian atas masalah yang dihadapi merupakan suatu hal yang pertama-tama harus dilakukan. Dengan batasan yang diberikan pada awal proposal itu, dapat diletakkan landasan pengertian yang sama antara kedua belah pihak. Dalam hal ini penerima usul adalah orang atau badan yang telah menyampaikan penawaran kepada umum sehingga dengan sendirinya sudah mengetahui persoalannya, tetapi dapat juga penerima usul sama sekali belum menyadari adanya persoalan itu.
Apabila proposal semata-mata berasal dari inisiatif penulis, maka penulis proposal harus berusaha sungguh-sungguh untuk meyakinkan penerima proposal bahwa benar terdapat masalah yang harus diatasi demi kelangsungan hidup perusahaannya atau badan yang dipimpinnya.
a.2.2 Latar Belakang
Sejarah atau latar belakang masalah yang diuraikan perlu pula dikemukakan. Apa yang terjadi sekarang atau nanti, tidak dapat terlepas dari perkembangan atau sejarahnya pada masa lampau.
a.2.3 Luas Lingkup
Membatasi luas lingkup persoalan yang dihadapi akan membawa manfaat sekurang-kurangnya dalam dua hal. Pertama penulis proposal akan dapat melihat dudul persoalannya dengan jelas, sehingga dapat menyampaikan deskripsi yang konkrit dan jelas. Di pihak lain pembatsan luas lingkup ini penting bagi penulis. Bila penulis tidak member batasan maka penerima proposal akan melakukan tuntutan-tuntutan tertentu di kemudian hari.
a.2.4 Metodologi
Kerangka teoritis yang dipergunakan oleh penulis untuk menganalisa, mengerjakan atau membatasi masalah yang dihadapi. Kerangka teoritis merupakan metode-metode ilmiah yang akan diterapkan dalam pelaksanaan tugas.
a.2.5 Fasilitas
Penulis proposal perlu menggambarkan bermacam-macam fasilitas yang dimilikinya untuk lebih meyakinkan penerima proposal bahwa tawaran mereka memang benar-benar serius dan mereka pasti sanggup mengerjakannya dengan baik.
a.2.6 Personalia
Penulis proposal harus menyertakan daftar susunan personalia, baik yang bekerja penuh maupun tidak, dengan gelar dan keahlian serta pengalamannya masing-masing. Bila perlu daftar personalia ini dilengkapi dengan riwayat hidup, pendidikan dan pekerjaan.
a.2.7 Keuntungan dan Kerugian
Untuk meyakinkan penerima proposal bahwa biaya yang akan dikeluarkan tidak akan sia-sia dengan hasil yang diperoleh. Keuntungan yang diperoleh dapat bersifat keuntungan yang memang lagsung diharapkan.
a.2.8 Lama Waktu
Harus menjelaskan lama waktu pekerjaan akan diselesaikan
a.2.9 Biaya
Perincian biaya harus benar-benar digarap dalam proposal ini sehingga dapat meyakinkan penerima proposal. Yang lebih diinginkan agar semua pos pembiayaan diberikan perincian tersendiri.
a.2.10 Laporan
Untuk mengikuti tahap pelaksanaan dengan cermat, penulis proposal juga memperkirakan tahap-tahap pelaporan kemajuan pekerjaan yang akan dikerjakannya.
a.3 Bagian Pelengkap Penutup
Bagian ini sama dengan laporan dan tulisan formal lain, berisi bahan kepustakaan, lampiran-lampiran gambar, tabel, dan sebagainya yang dipergunakan dalam proposal.
b. Proposal Non Formal
Proposal non formal terkadang disampaikan juga dalam bentuk memorandum atau surat. Bentuk yang non formal bukan hanya dipakai sebagai latihan bagi mahsiswa, tetapi dipergunakan juga dalam dunia usaha. Sebuah proposal non formal mengandung:
b.1 Masalah
Penulis harus mengadakan identifikasi masalah yang dihadapi dengan cermat, menggambarkan latar belakang atau sejarah persoalan yang dihadapi. Serta menunjukkan betapa pentingnya masalah itu dilaksanakan.
b.2 Saran pemecahan
Saran-saran yang disampaikan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, merupakan inti dan sasaran utama dari setiap proposal. Penulis berusaha menampilkan jalan-jalan keluar yang dianggapnya paling baik untuk mengatasi atau menyelesaikan pekerjaan yang dihadapi.
b.3 Permohonan
Penulis menyampaikan permohonan untuk melaksanakan pekerjaan yang khusus, atau bersedia menyampaikan informasi yang diperlukan untuk keluar dari masalah yang dihadapi.


sumber :
Gorys Keraf.1994.Komposisi.NTT=Penerbit Nusa Indah
http://muachajah.blogspot.com/2011/11/proposal-usul.html

Baik dan Buruk Pengaruh Iklan di Televisi

Biofilm adalah kumpulan sel mikroorganisme, khususnya bakteri, yang melekat di suatu permukaan dan diselimuti oleh pelekat karbohidrat yang dikeluarkan oleh bakteri. Biofilm terbentuk karena mikroorganisme cenderung menciptakan lingkungan mikro dan relung (niche) mereka sendiri. Biofilm memerangkap nutrisi untuk pertumbuhan populasi mikroorganisme dan membantu mencegah lepasnya sel-sel dari permukaan pada sistem yang mengalir. Permukaan sendiri adalah habitat yang penting bagi mikroorganisme karena nutrisi dapat terjerap pada permukaan sehingga kandungan nutrisinya dapat lebih tinggi daripada di dalam larutan. Konsekuensinya, jumlah dan aktivitas mikroba pada permukaan biasanya lebih tinggi daripada di air.
Hingga tahun 1980-an, mode pertumbuhan dengan biofilm lebih dianggap sebagai sesuatu yang menarik saja dan bukan sebagai suatu studi ilmiah yang serius. Namun, bukti-bukti yang terkumpul kemudian menunjukkan bahwa pembentukan biofilm lebih disukai oleh mikroorganisme, dan hampir semua permukaan yang terkena kontak dengan mikrob dapat mendukung pembentukan biofilm sehingga memengaruhi kehidupan manusia. Atas dasar tersebut, studi mengenai biofilm menjadi lebih intensif. Selain bakteri, mikroorganisme lainnya seperti alga dan khamir (fungi bersel satu) juga dapat membentuk biofilm, namun biofilm bakteri adalah yang paling banyak dipelajari dan dirujuk sebagai contoh.
Asal-usul biofilm dapat ditelusuri hingga 3,5 milyar tahun yang lalu berdasarkan fosil biofilm yang ditemukan di Afrika bagian selatan dan Australia Barat. Fosil biofilm tersebut berbentuk stromatolit (Bahasa Yunani stroma, “tempat tidur”, dan lithos, “batu”) yaitu kubah bergaris-garis yang tersusun dari batuan sedimen yang sangat mirip dengan kerak berlapis-lapis, yang sekarang ini terbentuk pada dasar rawa berair asin dan beberapa laguna laut hangat oleh koloni bakteri dan sianobakteri.[4] Biofilm terbentuk karena prakarsa koloni bakteri dan sianobakteri yang melekat pada batuan tersebut.[4] Sampai saat ini, fosil tersebut adalah fosil organisme hidup tertua yang diketahui sehingga biofilm diperkirakan sudah ada pada awal mula kehidupan di bumi.
Komposisi dan struktur
Struktur kimia xanthan gum, EPS yang dihasilkan Xanthomonas campestris untuk membentuk biofilm
Komposisi biofilm terdiri dari sel-sel mikroorganisme, produk ekstraseluler, detritus, polisakarida sebagai bahan pelekat, dan air yang adalah bahan penyusun utama biofilm dengan kandungan hingga 97%.
Polisakarida (polimer dari monosakarida atau gula sederhana) yang diproduksi oleh mikrob untuk membentuk biofilm termasuk eksopolisakarida (EPS) yaitu polisakarida yang dikeluarkan dari dalam sel. EPS yang disintesis oleh sel mikrob berbeda-beda komposisi dan sifat kimiawi dan fisikanya.
Beberapa adalah makromolekul yang bersifat netral, namun mayoritas bermuatan karena keberadaan asam uronat (Asam D-glukuronat), Asam D-galakturonat, dan Asam D- manuroniat.[8] Ada biofilm yang bersifat kaku karena EPS-nya terdiri dari ikatan ß-1,4 atau ß-1,3 glikosida (ikatan monosakarida monomer penyusun polisakarida) seperti EPS xanthan gum yang dihasilkan oleh Xanthomonas campestris tetapi ada juga yang bersifat fleksibel karena memiliki ikatan α-1,2 atau α-1,6 glikosida yang banyak ditemukan pada dekstran Beberapa contoh EPS selain xanthan gum adalah asam kolanat yang diproduksi oleh Escherichia coli, alginat oleh P. aeruginosa, dan galaktoglukan oleh Vibrio cholerae. Bahan-bahan penyusun biofilm yang lain contohnya adalah protein, lipid, dan lektin.
Struktur dari suatu biofilm adalah unik tergantung dari lingkungan tempatnya berada, contohnya adalah kandungan nutrisi dan keadaan fisik. Selain itu, di alam, sangat jarang terdapat biofilm yang hanya terdiri dari satu spesies, biasanya biofilm tersusun dari beberapa spesies dalam lapisan-lapisan yang berbeda. Biasanya mikroorganisme fotosintetik ada di permukaan paling atas, mikroorganisme kemoorganotrof anaerob fakultatif di bagian tengah, sedangkan di bagian dasar adalah mikroorganisme anaerob pereduksi sulfat. Pada bagian atas, cahaya matahari lebih mudah didapat sehingga dapat digunakan untuk fotosintesis, sedangkan bagian tengah dapat dihuni oleh mikrob kemoorganotrof fakultatif anaerob karena dapat mentolerir kandungan udara yang sedikit serta banyak dapat mengakses bahan organik sebagai sumber energinya. Pada bagian dasar, tidak terdapat kandungan udara sehingga mikrob anaerob pereduksi sulfat dapat tumbuh dan energi dengan cara mereduksi sulfat. Pemodelan habitat mikrob-mikrob tersebut dapat diamati menggunakan Kolom Winogradsky. Struktur biofilm yang lebih kompleks dapat berbentuk empat dimensi (x,y,z, dan waktu) dengan agregat sel, pori-pori, dan saluran penghubung. Tergantung dari kondisi lingkungannya, biofilm dapat menjadi sangat besar dan tebal sehingga dapat dilihat dengan mata telanjang contohnya pada lingkungan air laut dapat terbentuk stromatolit. Struktur dan ukuran biofilm sangat bergantung pada konsentrasi substrat.
Pembentukan
Pembentukan biofilm yang meliputi 5 tahap
Komunikasi antarsel penting bagi perkembangan dan pemeliharaan biofilm. Pelekatan suatu sel pada suatu permukaan adalah hasil dari sinyal untuk mengekspresikan gen-gen pembentuk biofilm. Gen-gen ini mengkodekan protein-protein untuk mensitensis sinyal komunikasi antarsel dan memulai pembentukan polisakarida. Pada bakteri gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, molekul sinyal yang utama adalah komponen yang disebut homoserin lakton yang berfungsi sebgai agen kemostatik untuk mengumpulkan sel-sel P. aeruginosa yang berdekatan (melalui mekanisme quorum sensing) dan membentuk biofilm.
Ada 5 tahap pembentukan biofilm yaitu:
Pelekatan awal: mikrob melekat pada permukaan suatu benda dan dapat diperantarai oleh fili (rambut halus sel) contohnya pada P.aeruginosa.
Pelekatan permanen: mikrob melekat dengan bantuan eksopolisakarida (EPS).
Maturasi I: proses pematangan biofilm tahap awal.
Maturasi II: proses pematangan biofilm tahap akhir, mikrob siap untuk menyebar.
Dispersi: Sebagian bakteri akan menyebar dan berkolonisasi di tempat lain.
Pemicu pembentukkan biofilm salah satunya adalah kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan atau mencekam. Contohnya adalah produksi EPS oleh Escherichia coli berupa asam dan P. aeruginosa saat ketersediaan nutrisi menipis.
Quorum sensing
Selain keterbatasan nutrisi, faktor lain yang memicu pembentukan biofilm adalah quorum sensing, yaitu mekanisme untuk memastikan jumlah sel mencukupi sebelum suatu spesies melakukan respon biologi khusus. Jadi, setiap sel mikrob akan menghasilkan molekul sinyal untuk berkomunikasi dengan sel yang lain, bila jumlah sel mikrob tersebut cukup banyak, maka molekul sinyal terseut juga cukup banyak untuk memicu pembentukkan biofilm oleh keseluruhan bakteri tersebut. Molekul-molekul sinyal tersebut berbeda untuk tiap jenis mikrob dan memiliki peranannya masing-masing.Berikut ini adalah tabel daftar molekul sinyal yang berperan dalam quorum sensing untuk membentuk biofilm dan akibatnya bila molekul sinyal tersebut tidak ada
Fungsi bagi bakteri
Alasan bakteri membentuk biofilm adalah karena daya tahan hidup/sintasan (survival) meningkat dan pertumbuhan menjadi lebih baik[. Setidaknya ada empat alasan yang mendasari hal tersebut:
Pertahanan
Biofilm berfungsi sebagai mekanisme pertahanan bagi bakteri dengan cara meningkatkan resistensi terhadap gaya fisik yang dapat menyapu berssih sel-sel yang tidak menempel, fagositosis oleh sel-sel sistem imun (kekebalan) tubuh, dan penetrasi dari senyawa beracun seperti antibiotik. Bakteri di dalam biofilm lebih resisten 10-1.000 kali dibandingkan bila tidak di dalam biofilm.
Pelekatan pada relung
Dengan menggunakan biofilm, bakteri dapat melekat pada permukaan yang kaya akan nutrisi seperti jaringan sel hewan, atau permukaan substrat pada sistem yang mengalir contohnya permukaan batu di dalam aliran air.[1]
Kolonisasi
Pembentukan biofilm membantu sel-sel bakteri untuk hidup berdekatan dan membentuk koloni. Contohnya adalah Pseudomonas aeruginosa yang berkoloni dengan biofilm sehingga memfasilitasi komunikasi antar sel dengan molekul sinyal, dan meningkatkan peluang pertukaran materi genetik.
Cara hidup alami bakteri
Di alam, biofilm adalah cara hidup alami bagi beberapa bakteri tertentu dengan alasan terbatasnya nutrisi, tidak seperti medium buatan yang kaya akan nutrisi bagi bakteri.
Pengaruh negatif terhadap manusia
Penyakit
Karies gigi
Karies gigi dapat disebabkan oleh biofilm dari matriks glukan yang dibentuk Streptococcus mutans. Biofilm tersebut melapisi enamel sehingga bakteri lain juga dapat melekat pada matriks tersebut dan membentuk plak gigi. Tingkat aktivitas karies gigi dapat ditentukan menggunakan S. mutans sebagai indikator, caranya adalah menumbuhkan S. mutans dari sampel air liur (dari kelenjar saliva di mulut) pada medium buatan lalu dihitung jumlah koloni yang tumbuh. Bila jumlah S. mutans>106/ml maka tingkat aktivitas karies gigi tinggi, sedangkan S. mutans<105/ml maka aktivitas karies gigi termasuk rendah.
Fibrosis sistik
Penyakit ini disebabkan oleh P. aeruginosa yang membentuk biofilm pada paru-paru sehingga menimbulkan gejala pneumonia.
Biofilm pada peralatan medis
Peralatan medis yang diimplantasikan (dimasukkan) ke dalam tubuh manusia seperti selang kateter dan sendi buatan sangat rentan terhadap pembentukan biofilm. Contoh mikrob yang sering ditemui membentuk biofilm pada selang kateter adalah Candida albicans. Mikroorganisme ini adalah khamir patogen yang menyebabkan infeksi dan penyakit yang membahayakan jiwa pada orang-orang dengan sistem imun yang kurang baik, namun dalam keadaan sistem imun yang normal, C. albicans adalah mikroflora normal pada manusia yang tinggal di dalam mulut, saluran pencernaan, dan saluran alat kelamin. Biofilm C. albicans merugikan manusia saat terbentuk pada peralatan medis yang diimplantasikan (dimasukkan) ke dalam tubuh manusia seperti selang kateter, dan sendi buatan yang kemudian dapat menyebabkan infeksi sistemik. Komponen utama penyusun biofilm adalah matriks ekstraseluler (di luar sel) berupa β-1,3 glukan yang pembentukkannya dikodekan oleh gen (susunan DNA yang menyandikan protein) ZAP1. Penanganan biofilm C. albicans tidak mudah karena resisten terhadap berbagai macam obat antifungi.
Pengaruh positif terhadap manusia
Pengolahan limbah
Pemanfaatan biofilm untuk mengolah limbah sudah diaplikasikan saat ini contohnya untuk mengolah limbah cair. Pada biofilm di fasilitas pengolahan limbah cair, terdapat berbagai macam mikrob yang dapat menguraikan senyawa-senyawa baik organik maupun inorganik pada limbah Misalnya saja bakteri pengoksidasi sulfur (S) yang berperan untuk mendaur ulang sulfur, lalu bakteri pengikat Uranium (U) yaitu Desulfovibrio desulfuricans. Alat yang digunakan untuk mengolah limbah dengan biofilm berupa bioreaktor yang memiliki biofilm contohnya sequencing batch biofilm reactor (SBBR).
Kontrol biofilm
Kontrol biofilm adalah bisnis yang besar dengan miliaran dollar digunakan oleh industri-industri di seluruh dunia untuk merawat pipa-pipa dan permukaan-permukaan yang lain supaya terbebas dari biofilm. Beberapa bahan yang sedang dikembangkan untuk mencegah pembentukan biofilm adalah antibiotik dan obat untuk mengganggu komunikasi antar sel yang membentuk biofilm.[1] Salah satu bahan kimia golongan furanon telah menunjukkan hasil positif untuk mencegah biofilm pada permukaan abiotik.[1] Furanon kemungkinan dapat digunakan sebagai agen antibiofilm pada obat manusia karena sifatnya yang stabil dan nontoksik.
Pada peralatan medis seperti selang kateter, telah dicoba berbagai cara untuk mencegah pelekatan awal oleh bakteri, contohnya dengan mengubah sifat kimia atau fisika dari permukaan seperti dibuat menjadi hidrofobik (menolak molekul air) sehingga membran sel yang hidrofilik (mengikat molekul air) lebih susah menempel. Sayangnya, metode ini tidak menunjukkan hasil yang baik karena peralatan medis yang terkena cairan tubuh akan menjadi tempat yang baik bagi bakteri untuk melekat.
Sumber :
http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/08/22/biofilm-pengaruh-baik-dan-buruk-bagi-manusia/

Ketika Berwira Usaha Menjadi Pilihanku

Wirausaha adalah salah satu pilihan dalam menjalani bisnis tertetu. Berwirausaha juga memiliki banyak keuntungan antara lain bias menciptakan lapangan pekerjaan dan juga bisa pemilik usahanya sendiri, menjadi Saat ini wirausaha sedang menjadi booming di Indonesia. Banyak orang yang memilih srategi bisnis ini. Selain modalnya yang tidak terlalu besar, produk yang ditawarkan juga dapat merangsang peminat atau konsumen, sebab biasanya barang yang diperjual belikan tersebut merupakan baran – barang yang termasuk kebutuhan primer. Bisnis ini juga sangat bersahabat dengan para penikmat usaha, bila tekun, mampu melihat kebutuhan pasar, insyaallah wirausaha menjadi pilihan utama yang menjanjikan keuntungan yang menjanjikan.
Wirausaha juga tak jarang mendapatkan penghargaan dalam acara – acara penghargaan. Saya sendiri ingin menekuni bisnis ini, melihat pangsa pasar yang menjanjikan membuat saya tertarik untuk segera mendirikan bisnis tersebut.

LAPORAN

Pengertian Laporan
Laporan mempunyai peranan yang penting pada suatu organisasi karena dalam suatu organisasi dimana hubungan antara atasan dan bawahan merupakan bagian dari keberhasilan organisasi tersebut. Dengan adanya hubungan antara perseorangan dalam suatu organisasi baik yang berupa hubungan antara atasan dan bawahan, ataupun antara sesama karyawan yang terjalin baik maka akan bisa mewujudkan suatu sistem delegation of authority dan pertanggungjawaban akan terlaksana secara effektif dan efisien dalam organisasi.

Pengertian laporan adalah bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau suatu kegiatan, pada dasarnya fakta yang disajikan itu berkenaan dengan tanggung jawab yang ditugaskan kepada si pelapor. Fakta yang disajikan merupakan bahan atau keterangan berdasarkan keadaan objektif yang dialami sendiri oleh si pelapor (dilihat, didengar, atau dirasakan sendiri) ketika si pelapor melakukan suatu kegiatan.

Dalam pembuatan suatu laporan formal, bahasa yang digunakan haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. Bahasa yang baik tidak berarti bahwa laporan itu mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan, melainkan dari segi sintaksis bahasanya teratur, jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lain dan antara satu kalimat dengan kalimat lain. Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari, kecuali penggunaan kata ”kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau suatu tugas.

A. Prinsip – prinsip Penulisan laporan

Laporan pada dasarnya adalah alat komunikasi juga. Supaya dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif, sebuah laporan harus memenuhi syarat–syarat berikut ini.
1. Lengkap
Artinya data dan fakta yang ada dalam laporan harus lengkap

2. Jelas
Sebuah laporan disebut jelas bila uraian dalam laporan tidak memberi peluang ditafsirkan secara berbeda oleh pembaca yang berbeda. Ini dapat dicapai bila bahasa yang digunakan benar dan komunikatif

3. Benar / akurat
Data dan fakta yang salah dapat menuntun pembaca membuat suatu keputusan yang salah. Jadi kebenaran dan keakuratan isi laporan sangat diperlukan.

4. Sistematis
Laporan harus diorganisasikan sedemikian rupa, dengan system pengkodean yang teratur, sehingga mudah dibaca dan diikuti oleh pembaca. Laporan yang sistematis juga menunjang unsur kejelasan yang sudah diciptakan oleh unsur – unsur bahasa.

5. Objektif
Penulis laporan tidak boleh memasukkan selera pribadi ke dalam laporannya. Pelapor harus bersikap netral dan memakai ukuran umum dalam minilai sesuatu.

6. Tepat waktu
Ketepatan waktu mutlak diperlukan, karena keterlambatan laporan bisa mengakibatkan keterlambatan pengambilan keputusan.

B. Jenis Laporan

Laporan dapat digolongkan menurut :

1. Maksud pelaporan
• Laporan informativ, yaitu laporan yang dimaksudkan untuk memberi informasi dan bukan dimaksudkan untuk memberi analisis atau rekomendasi. Titik pentingnya adalah pemberian informasi yang akurat dan terinci.
• Laporan rekomendasi, yaitu laporan yang di samping memberikan informasi juga menyertakan pendapat si pelapor, dengan maksud memberikan rekomendsasi (usul yang tidak mengikat). Meski demikian akurasi dan rincian informasi tetap diperlukan supaya rekomendasi yang diberikan juga meyakinkan.
• Laporan analitis, yaitu laporan yang memuat sumbangan pikiran si pelapor, bisa berupa pendapat atau saran, setelah melalui analitis yang matang dan mendalam. Kebanyakan laporan akademis berada pada kategori ini.
• Laporan Pertanggungjawaban, di mana si pelapor memberi gambaran tentang pekerjaan yang sedang dilaksanakan (Progress report) atau sudah dilaksanakan (bersifat evaluatif).
• Laporan Kelayakan (feasibility report). Pelapor menganalisis suatu situasi atau masalah secara mendalam untuk menuju penilaian yang bersifat pilihan: layak atau tidak. Berbagai alternative dinanalisis, kemudian ditentukan mana yang lebih baik.

2. Bentuk Laporan
• Laporan berbentuk Memo; Biasanya laporan pendek yang memuat hal – hal pokok saja, dan beredar di kalangan intern organisasi.
• Laporan berbentuk Surat; Isinya lebih panjang daripada laporan yang berbentuk memo, sekitar tiga lembar folio. Bisa ditujukan ke luar organisasi.
• Laporan berbentuk naskah; Laporan ini bisa panjang atau pendek. Bila panjang dibuat dalam format buku, dan dalam penyampaiannya mutlak diperlukan surat atau memo pengantar.
• Laporan berbentuk Campuran; Laporan ini tidak lain gabungan antara bentuk naskah dengan memo atau surat. Dibuat begini karena isinya cukup kompleks sehingga harus dipadukan dengan bentuk naskah agar pengkodean bagian – baiannya lebih mudah dilakukan.
• Laporan berbentuk formulir.
• Laporan berbentuk buku.


3. Waktu Penyampaian
• Laporan Insidental; Laporan ini tidak disampaikan secara rutin, hanya sekali- sekali saja dalam rangka suatu kegiatan yang tidak terjadwal tetap.
• Laporan Periodik; Ditulis dalam suatu periode tertentu dan dinamai sesuai periodenya pula. Contoh: Laporan harian, Mingguan, Bulanan dan seterusnya.
sumber:
http://nista-maja.blogspot.com/2011/05/laporan.html
http://nindiyahpuspitasari.blogspot.com/2011/04/pengertian-laporan.html
http://aderiska-pilyang.blogspot.com/2011/06/pengertian-laporan.html